-->

Iklan

Tangis Budaya di Jantung Pangururan, Gaba-Gaba Sitolu Hae Horbo Hilang

Sabtu, Mei 16, 2026, 16:03 WIB Last Updated 2026-05-16T09:03:24Z

Samosir - Riuh pembangunan dan penataan kota semestinya menjadi simbol kemajuan. Namun di jantung Kota Pangururan, tepatnya di kawasan Taman Sitolu Hae Horbo, sebagian masyarakat justru merasakan kegelisahan yang perlahan berubah menjadi luka budaya.

Taman yang berada di segitiga pintu masuk Kota Pangururan itu selama ini bukan sekadar ruang publik tempat warga menikmati sore bersama keluarga atau melepas penat. Lebih dari itu, taman tersebut dianggap sebagai simbol identitas Bius Sitolu Hae Horbo, warisan sejarah leluhur bagi keturunan Naibaho, Sitanggang, dan Simbolon.

Polemik muncul setelah adanya perubahan penataan di kawasan taman. Keresahan masyarakat semakin memuncak menyusul hilangnya ornamen gaba-gaba salib yang selama ini dinilai menjadi bagian penting dari simbol budaya Sitolu Hae Horbo yang berpadu dengan nilai ke-Kristenan.

Bagi masyarakat adat, hilangnya simbol tersebut bukan perkara sederhana. Mereka menilai, yang hilang bukan hanya sebuah ornamen, melainkan bagian dari penghormatan terhadap sejarah dan identitas leluhur.

“Yang hilang bukan sekadar benda. Yang perlahan hilang adalah penghormatan terhadap sejarah,” ujar seorang warga Pangururan saat menyaksikan kondisi taman tersebut.

Tokoh keturunan Sitolu Hae Horbo, Efendy Naibaho, menegaskan bahwa pembangunan seharusnya tidak memutus akar budaya yang telah tumbuh dan diwariskan turun-temurun di tanah Pangururan.

Menurutnya, Taman Sitolu Hae Horbo memiliki nilai historis yang tidak dapat digantikan hanya dengan konsep estetika modern ataupun materi.

“Budaya bukan pajangan yang bisa dipindahkan sesuka hati. Di taman ini ada sejarah, identitas, dan warisan leluhur yang harus dihormati,” ujar Efendy kepada wartawan, Jumat (16/5/2026), usai menyampaikan pengaduan ke SPKT Polres Samosir.

Ia menilai, setiap penataan kawasan semestinya dilakukan melalui komunikasi bersama tokoh adat dan keturunan Bius Sitolu Hae Horbo agar tidak menimbulkan kesan menghapus simbol budaya masyarakat.

“Kami tidak menolak kemajuan kota. Tetapi pembangunan harus tetap berpijak pada akar budaya. Jangan sampai masyarakat adat hanya menjadi penonton di tanah sejarahnya sendiri,” katanya.

Sementara itu, Arifin Naibaho (69), warga Pangururan, mengambil langkah hukum dengan melaporkan dugaan hilangnya gaba-gaba salib tersebut ke Polres Samosir.

Sebelum laporan dibuat, Arifin bersama Efendy Naibaho dan pomparan Sitolu Hae Horbo didampingi Kapolsek Pangururan, AKP Dalimunthe, terlebih dahulu meninjau lokasi hilangnya ornamen tersebut.

Laporan diterima petugas SPKT Polres Samosir pada Jumat (16/5/2026), setelah pelapor mendapati ornamen yang sebelumnya berdiri di taman sudah tidak lagi berada di lokasi.

Arifin berharap simbol budaya dan ke-Kristenan itu dapat dikembalikan serta dipasang kembali sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan Bius Sitolu Hae Horbo.

“Biar generasi muda tahu bahwa tempat ini punya sejarah. Jangan sampai anak cucu hanya mendengar cerita tanpa lagi melihat simbol budayanya,” ucapnya.

Di tengah berkembangnya Pangururan sebagai daerah wisata yang terus berbenah, masyarakat berharap pemerintah dan seluruh pihak dapat duduk bersama mencari solusi terbaik.

Sebab sebuah kota tidak hanya dibangun oleh beton dan lampu taman, tetapi juga oleh sejarah, budaya, dan nilai-nilai yang menjaga jati diri masyarakat tetap hidup dari generasi ke generasi.

Masyarakat juga berharap Taman Sitolu Hae Horbo tetap difungsikan sebagai ruang yang menghormati nilai sejarah dan budaya, bukan sekadar menjadi lokasi pemasangan baliho atau kepentingan sesaat. (sb01/Tobing)
Komentar

Tampilkan

Terkini