![]() |
| Masjid Raya Al Hasanah Pangururan. (dok) |
Dikutip dari detiksumut.com, Sejarah masjid ini bermula dari kedatangan para pedagang dari pesisir Barus dan pesisir barat Sumatera yang melintasi jalur darat menuju pedalaman. Selain itu, catatan sejarah lisan masyarakat setempat menyebutkan bahwa keberadaan komunitas Muslim di Pangururan diperkuat oleh kedatangan beberapa tokoh dari Minangkabau yang menetap di sana pada masa penjajahan Belanda.
Dalam riset bertajuk "Islam di Tanah Batak: Studi Kasus Minoritas di Samosir", sejarawan Dr. Phil. Ichwan Azhari (Ketua Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-Ilmu Sosial UNIMED) sering menekankan soal kosmopolitan Danau Toba.
"Masjid di Samosir adalah bukti nyata dari kosmopolitanisme Danau Toba. Islam masuk ke pedalaman bukan melalui penaklukan, melainkan melalui sirkulasi perdagangan dan interaksi budaya yang sangat damai," demikian isi riset tersebut.
Yang unik dari Masjid Al-Hasanah adalah bagaimana komunitas Muslim di sini tetap menjaga identitas kebatakannya. Mereka adalah orang Batak yang Muslim. Di sini, marga-marga seperti Limbong, Simbolon, dan Naibaho bersatu dalam satu saf shalat tanpa kehilangan akar budayanya.
Nurdin Manday, tokoh masyarakat Muslim Samosir dalam dokumentasi sejarah lokal menyebut budaya tetap tegak di Samosir meski perbedaan agama.
"Di Samosir, agama boleh berbeda, tetapi 'Hula-hula' dan 'Boru' tetap satu. Masjid ini berdiri di atas tanah yang dihormati oleh saudara-saudara kami yang beragama Kristen. Inilah wajah asli Sumatera Utara yang sebenarnya," tutur Nurdin Manday.
Menjalankan ibadah Ramadhan di Masjid Al-Hasanah memberikan sensasi yang sangat syahdu. Suara adzan yang memantul di permukaan Danau Toba dan udara pegunungan yang menusuk tulang menciptakan atmosfer spiritual yang sangat intim. Tradisi berbuka puasa di sini sering kali melibatkan hidangan ikan mas arsik (versi halal), yang menjadi pengikat rasa kekeluargaan antar warga.
